Sabtu, 21 Juni 2008

Melihat KBM Siswa SDN Bendungan Setelah Roboh

Belajar masih di dawah tenda dan beralaskan tanah
31 Juli 2007 lalu, empat lokal ruangan SDN Bendungan di Desa Pud
ar, Kecamatan Pamarayan, ambruk. Sejak itu, ratusan siswa sekolah dasar ini mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam suasana yang tidak nyaman.

KARNOTO, Radar Banten, 04-September-2007

Satu bulan lebih, musibah yang menimpa gedung sekolah milik Pemkab Serang itu terjadi. Namun, Senin (3/9), suasana kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah itu masih sama ketika Radar Banten datang tidak lama setelah empat lokal ruangan gedung sekolah itu ambruk.
Oleh pihak sekolah, siswa masih ditempatkan dalam empat ruangan sempit dengan atap terpal berwarna biru, berdinding seng berkarat, dan beralaskan tanah yang kerap menimbulkan debu ketika angin bertiup sedikit kencang.

Sekira pukul 11.00 WIB, siswa kelas 3, 4, dan 5, terlihat sedang menyimak pelajaran. Namun para siswa itu sama sekali tidak dapat berkonsentrasi karena udara di dalam ruang sempit berdinding seng itu panas. Sehingga sejumlah siswa melepas beberapa kancing atas baju putihnya yang sudah lusuh. “Pak, panas. Istirahat saja dulu ya,” pinta salah seorang siswa sambil mengipas-kipaskan buku LKS-nya.
Ruangan yang tidak layak disebut kelas itu merupakan hasil swadaya masyarakat Desa Pudar yang peduli dengan dunia pendidikan. “Ini berkat kesadaran masyarakat yang menginginkan anaknya tetap bersekolah,” kata Mansur, warga Desa Pudar.
Gedung SDN Bendungan saat ini hanya dua ruang kelas dan satu ruang guru. Ruang kelas itu digunakan siswa kelas 1 dan 2, sementara kelas 6 menggunakan ruang guru yang disekat dengan kayu lapis atau triplek.

Meskipun kelas 6 berada di dalam gedung, suasana belajar yang nyaman tetap sulit dirasakan. Sebab, bangku tidak ada sehingga siswa belajar di lantai beralaskan terpal. “Daripada tidak belajar, pakai terpal juga tidak apa-apa,” aku Sri, siswa kelas 6 memegangi buku tulisnya.

Dunia pendidikan di Kabupaten Serang kembali menjadi sorotan. Empat ruangan masing-masing kelas 2, 3, 4, dan 5 SDN Bendungan Pamarayan, Desa Pudar, Kecamatan Pamarayan, ambruk, Senin (30/7) pukul 10.00 WIB. Puluhan siswa yang masih berada di dalam kelas mengalami luka memar setelah tertimpa reruntuhan.
Tiga hari sebelumnya, Radar Banten sempat merekam kekhawatiran para dewan guru (edisi Sabtu, 28/7). Saat itu, mereka mengkhawatirkan bangunan akan roboh sebab sejak dibangun tahun 1982 hingga sekarang tidak pernah direhab. Ternyata kekhawatiran itu terbukti pada Senin (30/7), empat ruangan kelas ambruk.

Maksum, salah seorang wali murid menuturkan, saat bangunan ambruk aktivitas belajar mengajar di sekolah sedang istirahat. “Saat itu, tiang sekolah patah disusul ambruknya atap bangunan dan menimpa puluhan siswa yang masih berada di dalam ruang kelas,” katanya kepada Radar Banten, Senin (30/7).

Kejadian itu memaksa pihak sekolah memerintahkan siswa pulang ke rumah masing-masing. Maksum menegaskan, salah satu siswa kelas tiga, Nia Amelia, mengalami luka agak serius.
Maksum menjelaskan, bangunan sekolah ambruk karena sejak dibangun tahun 1982 belum pernah direhab. Padahal, ada 190 siswa yang belajar di sekolah tersebut. “Kalau pemerintah tidak segera memperbaiki sekolah maka kami wali murid ramai-ramai akan mendatangi Dinas Pendidikan (Dindik) Serang,” ungkap Maksum dengan nada kesal.

Kondisi gedung SDN Bendungan memang memprihatinkan. Enam lokal ruangan kelas, sama sekali tidak mencerminkan bangunan sekolah. Dinding sekolah hanya terbuat dari anyaman bambu, tiang kayu keropos, lantai beralaskan tanah berdebu, dan tidak ada pemisah antarkelas.
Sementara atap bangunan yang terbuat dari seng sudah tidak utuh. Di samping itu, jumlah kursi sangat terbatas. Jika musim kemarau dan hujan aktivitas belajar dihentikan sementara.
Wakil Kepala SDN Bendungan Wahyadi meminta pemerintah segera merehab bangunan sekolah yang ambruk supaya proses belajar mengajar siswa kembali normal. “Kami sudah mengajukan kepada Dindik Serang dan dijanjikan tahun 2007. Tapi sampai sekolah ambruk tidak ada kepastian kapan akan direhab,” kata Wahyadi.

Wahyadi juga mengatakan, empat ruang kelas yang ambruk memang memprihatinkan sebelumnya. Meski ambruk, Wahyadi menegaskan, aktivitas belajar mengajar tetap berjalan dengan menggunakan tenda darurat. “Sambil menunggu rehab dari pemerintah, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa. Hanya saja, tempat belajar menggunakan tenda,” katanya.

Nina, salah satu mahasiswa Untirta yang sedang melakukan kuliah kerja mahasiswa (KKM) di desa tersebut menuturkan, kaget saat baru kali pertama melihat kondisi bangunan sekolah yang memprihatinkan. “Kita berpikir, kalau bangunannya seperti ini bagaimana belajarnya,” ujar Nina.
Nina mengakui, kondisi itu tidak membuat aktivitas belajar berjalan efektif. ”Kami merasakan proses belajar mengajar tidak bisa berjalan efektif,” aku Nina yang juga mengajar di sekolah tersebut selama menempuh KKM.
(*)

Tidak ada komentar: