Rumahnya berlantai keramik, sehari sisa dapat Rp 100 Ribu
Sebelum azan Subuh, puluhan pengemis dari Kampung Cikeli, Desa Tirem, Kecamatan Ciruas, Serang, memulai aktivitas di daerah operasi seperti Pelabuhan Merak, Balaraja, dan sejumlah pusat keramaian di Kabupaten Serang dan Kota Cilegon.
KARNOTO, Radar Banten, Kamis, 23-Agustus
Kecamatan Ciruas tidak jauh dari pusat
Warga memang ter
kesan malu dan menyembunyikan pekerjaan yang selama ini dilakoni. Mereka menjadi pengemis karena tuntutan ekonomi dan ada juga karena ikut kerabat. Setelah menjalani menjadi pengemis mereka tampaknya mulai kerasan karena penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. “Yang penting tidak mengambil barang orang lain dan tidak mencuri,” kata seorang pengemis yang enggan namanya dikorankan, Rabu (15/8).
Ibu Marjuki, salah seorang warga Desa Tirem menuturkan, umumnya aktivitas puluhan pengemis dari Kampung Cikeli mengawali pekerjaan sejak pukul 03.00 WIB. Berkelompok dua-dua, mereka berjalan ke “wilayah kerjanya” yakni pusat keramaian seperti, perempatan jalan
“Puluhan warga Cikeli yang menjadi pengemis sudah menjadi rahasia umum. Saya selalu melihat mereka berangkat dan pulang karena melewati rumah saya,” katanya.
Pengemis dari Kampung Cikeli tidak dikoordinir oleh salah satu pihak yang biasa terjadi di kota-kota besar. Hanya saja, di antara pengemis sudah ada semacam pembagian “wilayah kerja” sehingga antarpengemis mengetahui daerah operasi masing-masing. “Kita sudah memiliki kawasan sendiri-sendiri,” ujar pengemis wanita yang mengaku “libur” karena sakit yang dideritanya baru sembuh.
Selama hampir 15 jam mengemis di tengah cuaca panas maupun hujan, mereka dapat mengantongi hasil belas kasihan orang antara Rp 50.000 sampai Rp 100.000 per hari. ”Untuk ukuran kampung, uang sebesar itu besar. Tak heran jika ada sebagian pengemis mampu membeli sawah dari hasil mengemis,” ujar salah seorang warga lain yang enggan namanya dikorankan.
Warga yang menjadi pengemis juga bisa ditemui di Kampung Kebanyakan, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Serang. Mereka umumnya adalah kaum ibu yang mulai beroperasi pukul 07.00 WIB.
Biasanya untuk menghindari bertemu dengan warga lain, saat berangkat, mereka tidak melalui jalan umum tapi melalui jalan setapak persawahan di belakang kampung. Mereka ‘bekerja’ hingga sore. Bila waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB, mereka pulang dengan menggunakan jasa ojek.
Saat menjalankan operasinya, mereka menggunakan pakaian yang compang-camping dengan selembar kain agar terlihat menyedihkan. Kain selendang itulah yang digunakan sebagai alas uang recehan yang diterima dari dermawan. Berbeda dengan pengemis asal Kampung Cikeli, sasaran pengemis asal Kampung Kebanyakan adalah perumahan yang ada di
Rata-rata usia mereka berkisar antara 50-60 tahun dan masih memiliki suami. Suami mereka umumnya bermata pencaharian sebagai tukang becak dan tukang panggul di Pasar Rau.
Pantauan Radar Banten, sungguh mengejutkan. Ternyata kondisi rumah mereka berkeramik dan bercat mencolok, membuat mata yang melihat tidak yakin kalau beberapa pemiliknya berprofesi sebagai pengemis. Apalagi, para pengemis tidak mau mengakui pekerjaan rutinnya dengan jujur.
Suratmi, warga Desa Bendung, Kecamatan Kasemen, yang letaknya bersebelahan dengan Desa Sukamanah menuturkan, mengenali sejumlah warga yang menjadi pengemis. Namun, saat berpapasan di jalan atau di daerah operasinya, mereka sering menghindar karena malu. “Saat saya menyapa mereka di jalan, mereka justru menghindar seperti tidak mengenal. Padahal, mereka mengenal saya. Mungkin karena tidak ingin diketahui,” kata Suratmi.
Marsin, warga Desa Sukamanah menceritakan, pada Idul Fitri tahun 2005 lalu, warga yang berprofesi sebagai pengemis berencana menyembelih hewan kurban berupa seekor kerbau. Namun dibatalkan karena tidak disetujui oleh ulama setempat. “Kalau yang saya dengar, jika hewan kurban berasal dari hasil meminta-minta berarti orang tersebut dianggap tidak mampu untuk berkurban,” kata Marsin. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar