Sabtu, 06 September 2008

Kisah Nelayan Cilik di Desa Lontar, Serang


Di saat deburan ombak mulai terdengar nyaring, hembusan angin laut pun terasa merinding. Ketika itulah Ade Putra (11) bersama ayahnya Saikam, sekira pukul 03.00 dini hari bangun untuk bergulat di tengah laut mencari ikan guna menyambung kelangsungan hidup mereka.

Oleh Karnoto

Rutinitas seperti ini sudah dilakukan Ade sejak usia 10 tahun. Maklum, sejak status siswanya hilang akibat himpitan ekonomi dua tahun lalu. Ade selalu menemani ayahnya mencari ikan di tengah gelombang laut. “Kalau ombaknya lagi tinggi saya tidak boleh ikut sama bapak,” kata Ade, bocah yang hanya menamatkan kelas 4 sekolah dasar ini, kepada Radar Banten, di belakang rumahnya di pinggir pantai Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Sabtu (6/9).

Hari itu, Ade tidak ikut meluat karena sedang musim angin dan lagi berpuasa. “Dina iki mah ore melu ning laut, angine lagi gede mengko puasane batal (red-hari ini tidak ikut anginnya lagi besar nanti puasanya batal),” kata Ade yang saat itu mengenakan kaos hitam.

Ditemui disela-sela bermain dengan teman sekampungnya, bicah berambut pirang ini mengaku ingin sekolah lagi seperti anak-anak lainnya. “Saya keluar karena ketika itu orangtua tidak punya uang untuk membayar sekolah,” kata Ade seraya mengaku kalau tunggakannya ketika itu mencapai Rp 200.000.

Kisah Ade ini, hanyalah salahsatu contoh tentang nasib anak para nelayan yang kian hari semakin terhimpit ekonominya. Masih ada belasan anak di desa ujung utara Kabupaten Serang ini yang mengalami nasib seperti Ade. Kondisi cuaca yang buruk ditambah dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), membuat orang tua mereka tidak berdaya untuk menyekolahkan anaknya, kendati masa kehidupannya masih sangat panjang.

Nasib yang serupa dialami oleh kakaknya Santi (15), gadis cilik yang terpaksa putus sekolah dasar empat tahun lalu. Bahkan, Karda (10), teman sebaya Ade pun tidak mampu menghadapi sesaknya nafas ekonomi orangtua mereka hingga akhirnya keluar dari sekolah dasar saat kelas tiga. Kini, Ia hanya mampu menelan keinginannya ketika melihat temannya memakai seragam merah putih untuk sekolah.

“Karda juga sering ikut orangtuanya pergi melaut pak,” kata Ade seraya menunjukan jari telunjuknya kepada wajah Karda yang ketika itu duduk berhadapannya.

Nasib sedikit beruntung dialami oleh Sarah (15), gadis cilik yang masih tetangga dengan Ade. Sarah berhasil menamatkan sekolah dasarnya di SDN I Lontar. Namun, sayang, Sarah pun tidak bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya karena orangtuanya sudah tidak sanggup membiayai sekolah. “Sebetulnya mah ingin dilanjutkan tapi biaya darimana?. Jangankan untuk sekolah, wong buat makan saja masih susah,” keluh Sanin, orangtua Sarah seraya berharap kepada pemerintah agar membantu anaknya itu.

Radar Banten mencoba menanyakan kepada Sanin penghasilan dari tangkapan ikan selama satu hari. Menurut Sanin, hasil tangkapan ikan setiap harinya hanya menyisakan uang sebesar Rp 20.000 per sekali melaut. “Bayangkan, berangkat jam tiga pulang jam empat sore. Eh, dapatnya cuma Rp 20.000. Uang sebesar ini di jaman sekarang mah cukup buat beli beras sehari,” kata Sanin seraya mengusap rambut adiknya Sarah yang kebetulan dipangku.

Mendengar cerita Sanin, kita sudah dapat membayangkan, betapa hebatnya para nelayan cilik di desa yang hanya berjarak kurang 1,5 jam dari pusat ibukota Provinsi Banten. Mereka dipaksakan bertempur selama kurang lebih 14 jam di tengah gelombang laut, yang sewaktu-waktu bisa mengancam keselamatan mereka.

Meskipun tidak melaut setiap hari, tapi bagi Ade, Karda, Samin dan teman-temanya, itu merupakan kondisi yang sebetulnya tidak mereka inginkan. “Makanya kalau lagi bosan kita main-main di pinggir pantai,” kata Samin, teman sepermainan Ade.

Akibat kondisi itu, anak-anak di desa ini seolah sudah kehilangan arah hidupnya. Beberapa kali Radar Banten menanyakan cita-cita atau harapannya setelah besar nanti, mereka terdiam dan tampak bingung. “Tidak tahu mau jadi apa,” kata anak-anak yang mengaku ingin sekolah lagi.

Orangtua mereka hanya berharap pemerintah turun tangan untuk bisa membantu agar para nelayan cilik ini bisa sekolah lagi. “Saya yang sudah tua juga ingin bisa baca pak. Apalagi anak-anak, yang masa hidupnya Insya Allah masih lama,” aku Sanin dengan penuh harap. ****


Tidak ada komentar: