Rabu, 26 November 2008

Bola dan Buku [1]


Golden Age atau usia emas menurut para ahli adalah masa yang paling menentukan perkembangan potensi anak. Pada usia 0-3 tahun ini diyakini masa yang paling baik untuk mengajak anak mengeksplorasi dan unjuk potensi.

Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia

Bermain dan becanda dengan anak merupakan kegiatan saya setelah selesai melakukan tugas pencarian dan penulisan berita. Aktivitas seperti ini biasanya saya lakukan pagi dan sore hari. Sebagai seorang lelaki yang baru pertama kali dikaruniai anak oleh Allah SWT, kegiatan ini sangat mengasyikan karena dapat melenturkan otot ketegangan dan kelusuhan selama seharian bekerja.
Apalagi, kini Fadia sudah bisa mengenal siapa orang disekelilingnya meskipun bahasanya masih gelepotan ketika meminta sesuatu kepada saya dan istri. Sebagai keluarga muda yang belum berpengalaman dalam menentukan metode pendidikan anak, kami berdua hanya bisa mengasah dengan cara rajin membaca buku, majalah, koran, dan artikel tentang anak di internet.
Tak jarang, kami bertiga menyempatkan rekreasi di toko buku sebulan sekali. Sayang, di tempat tinggal kami belum ada toko buku yang lengkap sehingga agak kesulitan melengkapi beberapa judul buku.
November 2008, Fadia memasuki usai 7 bulan dan ia sudah mulai suka bermain dengan benda-benda yang disukai. Diantara benda yang paling menarik perhatiannya adalah bola plastik, koran dan buku. Bola plastik yang warna-warni memang menggoda Fadia, terutama saat anak kelahiran 20 April 2008 ini selesai dimandikan.
Handuk kuning bergambar kartun yang dililitkan pada badan Fadia, tidak menghalangi untuk tetap bermain dengan bola plastik yang saya beli secara tidak sengaja, di area komplek Masjid Agung At-Tsaurah, Kota Serang, Provinsi Banten, usai menghadiri kuliah dhuha.
Bola seharga Rp 2.000 itu sering membuat Fadia jengkel karena saat dipegang selalu lepas. Maklum, tangannya terlalu kecil untuk memegang erat bola itu. Jika sudah seperti ini, biasanya gadis cilik yang mendapat julukan nyi lebrak oleh neneknya ini, akan beteriak-teriak kepada kami untuk minta dibantu.
Jika hal ini terjadi, saya dan istri sepakat untuk tidak memberikan bantuan secara cuma-cuma. Kesepakatan ini untuk melatih anak yang memiliki nama lengkap Hazimah Ayu Fadia ini, terbiasa dengan usaha dan kerja keras jika menginginkan impiannya tercapai. Sebagai salahsatu proses pembelajaran, kami berdua hanya akan mengangkat badan Fadia supaya berdiri untuk selanjutnya gadis cilik ini, dibiarkan loncat-loncat dengan irama teriakan yang memekan telinga.
Stimulus atau rangsangan seperti ini ternyata cukup berhasil meskipun belum sempurna. Hal ini terlihat ketika bola plastik lepas, Fadia langsung memutar badannya dan digerakan maju ke arah bola yang ada di depan wajahnya. Namun, badan yang gemuk membuat Fadia agak berat melakukan hal ini sehingga ujung-ujungnya ia tetap menangis.
Setelah beberapa kali diamati pada permainan bola ini, Fadia mulai pintar menggunakan akalnya agar pegangan bolanya tidak lepas. Kini, yang dipegang oleh gadis lucu ini bukan langsung bolanya melainkan tali berwarna putih yang mengikat di bola tersebut. “Bi, Fadia sekarang pintar loh. Jadi, biar tidak lepas yang dia pegang talinya,” kata istri saya dengan bangga karena rangsangan logikanya sedikit demi sedikit sudah mulai diterima oleh Fadia. ***

Sabtu, 06 September 2008

Kisah Nelayan Cilik di Desa Lontar, Serang


Di saat deburan ombak mulai terdengar nyaring, hembusan angin laut pun terasa merinding. Ketika itulah Ade Putra (11) bersama ayahnya Saikam, sekira pukul 03.00 dini hari bangun untuk bergulat di tengah laut mencari ikan guna menyambung kelangsungan hidup mereka.

Oleh Karnoto

Rutinitas seperti ini sudah dilakukan Ade sejak usia 10 tahun. Maklum, sejak status siswanya hilang akibat himpitan ekonomi dua tahun lalu. Ade selalu menemani ayahnya mencari ikan di tengah gelombang laut. “Kalau ombaknya lagi tinggi saya tidak boleh ikut sama bapak,” kata Ade, bocah yang hanya menamatkan kelas 4 sekolah dasar ini, kepada Radar Banten, di belakang rumahnya di pinggir pantai Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Sabtu (6/9).

Hari itu, Ade tidak ikut meluat karena sedang musim angin dan lagi berpuasa. “Dina iki mah ore melu ning laut, angine lagi gede mengko puasane batal (red-hari ini tidak ikut anginnya lagi besar nanti puasanya batal),” kata Ade yang saat itu mengenakan kaos hitam.

Ditemui disela-sela bermain dengan teman sekampungnya, bicah berambut pirang ini mengaku ingin sekolah lagi seperti anak-anak lainnya. “Saya keluar karena ketika itu orangtua tidak punya uang untuk membayar sekolah,” kata Ade seraya mengaku kalau tunggakannya ketika itu mencapai Rp 200.000.

Kisah Ade ini, hanyalah salahsatu contoh tentang nasib anak para nelayan yang kian hari semakin terhimpit ekonominya. Masih ada belasan anak di desa ujung utara Kabupaten Serang ini yang mengalami nasib seperti Ade. Kondisi cuaca yang buruk ditambah dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), membuat orang tua mereka tidak berdaya untuk menyekolahkan anaknya, kendati masa kehidupannya masih sangat panjang.

Nasib yang serupa dialami oleh kakaknya Santi (15), gadis cilik yang terpaksa putus sekolah dasar empat tahun lalu. Bahkan, Karda (10), teman sebaya Ade pun tidak mampu menghadapi sesaknya nafas ekonomi orangtua mereka hingga akhirnya keluar dari sekolah dasar saat kelas tiga. Kini, Ia hanya mampu menelan keinginannya ketika melihat temannya memakai seragam merah putih untuk sekolah.

“Karda juga sering ikut orangtuanya pergi melaut pak,” kata Ade seraya menunjukan jari telunjuknya kepada wajah Karda yang ketika itu duduk berhadapannya.

Nasib sedikit beruntung dialami oleh Sarah (15), gadis cilik yang masih tetangga dengan Ade. Sarah berhasil menamatkan sekolah dasarnya di SDN I Lontar. Namun, sayang, Sarah pun tidak bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya karena orangtuanya sudah tidak sanggup membiayai sekolah. “Sebetulnya mah ingin dilanjutkan tapi biaya darimana?. Jangankan untuk sekolah, wong buat makan saja masih susah,” keluh Sanin, orangtua Sarah seraya berharap kepada pemerintah agar membantu anaknya itu.

Radar Banten mencoba menanyakan kepada Sanin penghasilan dari tangkapan ikan selama satu hari. Menurut Sanin, hasil tangkapan ikan setiap harinya hanya menyisakan uang sebesar Rp 20.000 per sekali melaut. “Bayangkan, berangkat jam tiga pulang jam empat sore. Eh, dapatnya cuma Rp 20.000. Uang sebesar ini di jaman sekarang mah cukup buat beli beras sehari,” kata Sanin seraya mengusap rambut adiknya Sarah yang kebetulan dipangku.

Mendengar cerita Sanin, kita sudah dapat membayangkan, betapa hebatnya para nelayan cilik di desa yang hanya berjarak kurang 1,5 jam dari pusat ibukota Provinsi Banten. Mereka dipaksakan bertempur selama kurang lebih 14 jam di tengah gelombang laut, yang sewaktu-waktu bisa mengancam keselamatan mereka.

Meskipun tidak melaut setiap hari, tapi bagi Ade, Karda, Samin dan teman-temanya, itu merupakan kondisi yang sebetulnya tidak mereka inginkan. “Makanya kalau lagi bosan kita main-main di pinggir pantai,” kata Samin, teman sepermainan Ade.

Akibat kondisi itu, anak-anak di desa ini seolah sudah kehilangan arah hidupnya. Beberapa kali Radar Banten menanyakan cita-cita atau harapannya setelah besar nanti, mereka terdiam dan tampak bingung. “Tidak tahu mau jadi apa,” kata anak-anak yang mengaku ingin sekolah lagi.

Orangtua mereka hanya berharap pemerintah turun tangan untuk bisa membantu agar para nelayan cilik ini bisa sekolah lagi. “Saya yang sudah tua juga ingin bisa baca pak. Apalagi anak-anak, yang masa hidupnya Insya Allah masih lama,” aku Sanin dengan penuh harap. ****


Sabtu, 21 Juni 2008

Melihat KBM Siswa SDN Bendungan Setelah Roboh

Belajar masih di dawah tenda dan beralaskan tanah
31 Juli 2007 lalu, empat lokal ruangan SDN Bendungan di Desa Pud
ar, Kecamatan Pamarayan, ambruk. Sejak itu, ratusan siswa sekolah dasar ini mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam suasana yang tidak nyaman.

KARNOTO, Radar Banten, 04-September-2007

Satu bulan lebih, musibah yang menimpa gedung sekolah milik Pemkab Serang itu terjadi. Namun, Senin (3/9), suasana kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah itu masih sama ketika Radar Banten datang tidak lama setelah empat lokal ruangan gedung sekolah itu ambruk.
Oleh pihak sekolah, siswa masih ditempatkan dalam empat ruangan sempit dengan atap terpal berwarna biru, berdinding seng berkarat, dan beralaskan tanah yang kerap menimbulkan debu ketika angin bertiup sedikit kencang.

Sekira pukul 11.00 WIB, siswa kelas 3, 4, dan 5, terlihat sedang menyimak pelajaran. Namun para siswa itu sama sekali tidak dapat berkonsentrasi karena udara di dalam ruang sempit berdinding seng itu panas. Sehingga sejumlah siswa melepas beberapa kancing atas baju putihnya yang sudah lusuh. “Pak, panas. Istirahat saja dulu ya,” pinta salah seorang siswa sambil mengipas-kipaskan buku LKS-nya.
Ruangan yang tidak layak disebut kelas itu merupakan hasil swadaya masyarakat Desa Pudar yang peduli dengan dunia pendidikan. “Ini berkat kesadaran masyarakat yang menginginkan anaknya tetap bersekolah,” kata Mansur, warga Desa Pudar.
Gedung SDN Bendungan saat ini hanya dua ruang kelas dan satu ruang guru. Ruang kelas itu digunakan siswa kelas 1 dan 2, sementara kelas 6 menggunakan ruang guru yang disekat dengan kayu lapis atau triplek.

Meskipun kelas 6 berada di dalam gedung, suasana belajar yang nyaman tetap sulit dirasakan. Sebab, bangku tidak ada sehingga siswa belajar di lantai beralaskan terpal. “Daripada tidak belajar, pakai terpal juga tidak apa-apa,” aku Sri, siswa kelas 6 memegangi buku tulisnya.

Dunia pendidikan di Kabupaten Serang kembali menjadi sorotan. Empat ruangan masing-masing kelas 2, 3, 4, dan 5 SDN Bendungan Pamarayan, Desa Pudar, Kecamatan Pamarayan, ambruk, Senin (30/7) pukul 10.00 WIB. Puluhan siswa yang masih berada di dalam kelas mengalami luka memar setelah tertimpa reruntuhan.
Tiga hari sebelumnya, Radar Banten sempat merekam kekhawatiran para dewan guru (edisi Sabtu, 28/7). Saat itu, mereka mengkhawatirkan bangunan akan roboh sebab sejak dibangun tahun 1982 hingga sekarang tidak pernah direhab. Ternyata kekhawatiran itu terbukti pada Senin (30/7), empat ruangan kelas ambruk.

Maksum, salah seorang wali murid menuturkan, saat bangunan ambruk aktivitas belajar mengajar di sekolah sedang istirahat. “Saat itu, tiang sekolah patah disusul ambruknya atap bangunan dan menimpa puluhan siswa yang masih berada di dalam ruang kelas,” katanya kepada Radar Banten, Senin (30/7).

Kejadian itu memaksa pihak sekolah memerintahkan siswa pulang ke rumah masing-masing. Maksum menegaskan, salah satu siswa kelas tiga, Nia Amelia, mengalami luka agak serius.
Maksum menjelaskan, bangunan sekolah ambruk karena sejak dibangun tahun 1982 belum pernah direhab. Padahal, ada 190 siswa yang belajar di sekolah tersebut. “Kalau pemerintah tidak segera memperbaiki sekolah maka kami wali murid ramai-ramai akan mendatangi Dinas Pendidikan (Dindik) Serang,” ungkap Maksum dengan nada kesal.

Kondisi gedung SDN Bendungan memang memprihatinkan. Enam lokal ruangan kelas, sama sekali tidak mencerminkan bangunan sekolah. Dinding sekolah hanya terbuat dari anyaman bambu, tiang kayu keropos, lantai beralaskan tanah berdebu, dan tidak ada pemisah antarkelas.
Sementara atap bangunan yang terbuat dari seng sudah tidak utuh. Di samping itu, jumlah kursi sangat terbatas. Jika musim kemarau dan hujan aktivitas belajar dihentikan sementara.
Wakil Kepala SDN Bendungan Wahyadi meminta pemerintah segera merehab bangunan sekolah yang ambruk supaya proses belajar mengajar siswa kembali normal. “Kami sudah mengajukan kepada Dindik Serang dan dijanjikan tahun 2007. Tapi sampai sekolah ambruk tidak ada kepastian kapan akan direhab,” kata Wahyadi.

Wahyadi juga mengatakan, empat ruang kelas yang ambruk memang memprihatinkan sebelumnya. Meski ambruk, Wahyadi menegaskan, aktivitas belajar mengajar tetap berjalan dengan menggunakan tenda darurat. “Sambil menunggu rehab dari pemerintah, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa. Hanya saja, tempat belajar menggunakan tenda,” katanya.

Nina, salah satu mahasiswa Untirta yang sedang melakukan kuliah kerja mahasiswa (KKM) di desa tersebut menuturkan, kaget saat baru kali pertama melihat kondisi bangunan sekolah yang memprihatinkan. “Kita berpikir, kalau bangunannya seperti ini bagaimana belajarnya,” ujar Nina.
Nina mengakui, kondisi itu tidak membuat aktivitas belajar berjalan efektif. ”Kami merasakan proses belajar mengajar tidak bisa berjalan efektif,” aku Nina yang juga mengajar di sekolah tersebut selama menempuh KKM.
(*)

Melihat KBM Madrasah Diniyah Desa Teritih, Banten

Lagi aerius belajar tiba-tiba kursi ambruk, siswa pun terpelanting
Bangunan itu Nyaris Ambruk. Tiang penyangganya rapuh dimakan rayap
Sedangkan jendela ditutup bilahan bambu mirip kandang ayam. Begitu pula atap maupun temboknya, kusam bahkan mengelupas, pertanda bangunan tersebut telah uzur. Itulah gedung madrasah ibtidaiyah (setingkat SD) Kp Sidapurna, Desa Teritih, Serang.

KARNOTO, Radar Banten, Kamis, 27-Juli-2006



Seperti biasa, suasana kelas siang itu begitu ramai oleh suara anak-anak yang tengah bersiap memulai pelajaran. Tiba-tiba, terdengar umpatan seorang anak.

”Ini kan tempat duduk saya, kamu cari yang lain dong,” kata anak tersebut kepada temannya bernama Aisyah.

Aisyah yang merasa diusir tak terima diperlakukan demikian. Ia pun mengadu. ”Kak, masa’ tempat duduk Aisyah ditempati, Aisyah duduk di mana dong,” ujar Aisyah (8) kepada Irma (20), sang pengajar.

Suasana seperti itu memang sering terjadi di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sidapurna. tersebut. Maklum, jumlah kursi kayu yang tersedia dengan jumlah anak tidak seimbang. Jadi, siapa yang datangnya lebih awal dialah yang akan mendapatkan kursi.

Sedangkan yang terlambat datang, terpaksa menunggu belas kasihan rekannya untuk berbagi tempat duduk.

”Kasihan mereka, semangat belajarnya tinggi, namun keadaan sekolah seperti itu. Jumlah meja dan kursi sangat minim, bisa dihitung dengan jari sebelah, itu pun kondisinya sudah reot, kalau ditempati sering bunyi,” terang Irma (20), guru relawan yang masih berstatus mahasiswa.

”Pernah suatu waktu, ketika proses belajar mengajar sedang berjalan, tiba–tiba salah satu kursi ambruk hingga mengakibatkan beberapa anak tepelanting,” Irma bercerita.

Masih untung, hanya kursi yang ambruk, tapi bagaimana jika bangunan yang tiba-tiba roboh? Itulah yang sering dikhawatirkan pengelola maupun masyarakat setempat. ”Kita mah khawatir terhadap nasib anak–anak (jika sewaktu-waktu bangunan roboh-red),” ungkap salah seorang warga penuh khawatir.
Kondisi seperti ini memang amat dilematis.

Di satu sisi, bangunan beserta fasilitas pendukungnya tidak memenuhi syarat, di sisi lain, madrasah ini menjadi satu-satunya tumpuan anak–anak Sidapurna untuk belajar agama. ”Kami kan harus mencari uang untuk biaya hidup sehari–hari, jadi tidak sempat mengajari anak kami soal agama.

Makanya kehadiran sekolah ini berarti bagi kami,” ujar seorang warga.

Usia sekolah ini cukup tua memang, sudah hampir 15 tahun. Namun sejak awal berdiri, bangunannya tidak berubah sedikit pun.

Genteng yang hitam pekat dan sudah tipis akibat menahan gempuran air hujan, ruangan yang pengap, pagar sekolah pun tinggal sisa lima meter akibat terkikis air hujan terus menerus karena hanya terbuat dari bambu kering yang ditancapkan di tanah.

Warga sudah terlalu sering menggantinya, namun hanya mampu bertahan dua sampai tiga bulan. Setelah itu hanyut terbawa air. Dalam penilaian warga, bangunan sekolah madrasah hanya akan mampu bertahan sekitar satu sampai tiga tahun ke depan, itu pun kalau tidak terkena air tiap harinya.

Menghadapi kondisi yang serba dilematis ini, Somali, tokoh masyarakat yang dipercaya menjadi kepala madrasah tak mampu berbuat banyak. ”Itulah yang sampai saat ini belum terpikirkan, bagaimana nantinya kalau bangunan itu betul–betul ambruk.

Berharap swadaya masyarakat jelas tidak mungkin karena untuk kebutuhan sehari–hari saja, biasanya mereka harus utang dulu, dibayar setelah suaminya pulang dari Jakarta,” kata Somali dengan raut muka yang sedih.

Di saat musim hujan, sekolah harus dibersihkan terlebih dahulu karena banyak genangan air yang ada di dalam ruang kelas. Kalau sudah seperti ini, anak–anaklah yang bekerja membersihkan ruangan. Proses belajar mengajar pun terpaksa ditunda sampai tak ada lagi genangan air. ”Biasanya kalau hujan, kami ramai–ramai bawa sapu lidi untuk membersihkan genangan air,” terang Hodijah, salah satu siswi.

”Bukan kami tidak ingin merenovasi gedung sekolah ini. Namun apa daya, untuk iuran siswa saja yang jumlahnya hanya seribu rupiah per bulan, terpaksa ditiadakan karena para orangtua siswa tidak sanggup membayarnya,” ujar Somali.

Kendati demikian, Somali beserta para pengelola mencoba tetap bertahan agar kegiatan belajar mengajar terus berlangsung. ”Walaupun kondisi sekolah seperti itu, tapi kami tetap akan mengajar anak–anak. Selain kasihan pada mereka, juga itung–itung amal buat bekal akhirat nanti,” ungkap salah seorang guru madrasah dengan penuh semangat.

Sebetulnya, bukan tak ada upaya dari pengelola maupun masyarakat untuk memperbaiki bangunan. Selain mencari donatur, beberapa kali mereka mengirim proposal bantuan dana kepada pemerintah. ”Beberapa waktu lalu kami mengajukan proposal renovasi gedung ke pemerintah, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan.

Tapi mudah–mudahan dengan adanya Perda Diniyah, pemerintah akan lebih memperhatikan sekolah madrasah ini,” ungkap Somali dengan penuh harap.
Kini sekolah madrasah dengan jumlah murid 100 orang dan empat guru ini sudah berjalan enam tahun sejak diaktifkan kembali pada 2000 silam. Sebagai kepala sekolah, Somali tahu betul, sekolah ini masih membutuhkan guru, tapi mau bagaimana lagi, biaya untuk gaji guru tidak ada. Sementara ini honor para guru cuma Rp 200 ribu per bulan, itu pun atas bantuan LAZ Harapan Dhuafa, sebuah lembaga sosial keagamaan.

Bangunan madrasah ini sebetulnya ada lima kelas, namun hanya tiga kelas yang bisa digunakan. Dua kelas lagi tidak memungkinkan digunakan untuk belajar karena sering kebanjiran kalau musim hujan, di samping tidak ada kursi belajarnya. Selain tempat belajar agama, madrasah ini juga digunakan untuk kegiatan Kejar Paket B.

Di bawah bayang-bayang kursi ambruk dan bangunan roboh, anak-anak Kampung Sidapurna tak surut belajar. (***)

Potret Pengemis Di Kabupaten Serang

Rumahnya berlantai keramik, sehari sisa dapat Rp 100 Ribu
Sebelum azan Subuh, puluhan pengemis dari Kampung Cikeli, Desa Tirem, Kecamatan Ciruas, Serang, memulai aktivitas di daerah operasi seperti Pelabuhan Merak, Balaraja, dan sejumlah pusat keramaian di Kabupaten Serang dan Kota Cilegon.

KARNOTO, Radar Banten, Kamis, 23-Agustus


Kecamatan Ciruas tidak jauh dari pusat kota Kabupaten Serang. Bahkan, daerah ini dapat dikategorikan sebagai wilayah perkotaan. Meski berada dekat dengan pusat perkotaan namun tidak menjamin kehidupan warganya sejahtera. Bahkan di salah satu perkampungan di Desa Tirem yakni di Kampung Cikeli, terdapat puluhan warga yang berprofesi sebagai pengemis.

Warga memang terkesan malu dan menyembunyikan pekerjaan yang selama ini dilakoni. Mereka menjadi pengemis karena tuntutan ekonomi dan ada juga karena ikut kerabat. Setelah menjalani menjadi pengemis mereka tampaknya mulai kerasan karena penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. “Yang penting tidak mengambil barang orang lain dan tidak mencuri,” kata seorang pengemis yang enggan namanya dikorankan, Rabu (15/8).

Ibu Marjuki, salah seorang warga Desa Tirem menuturkan, umumnya aktivitas puluhan pengemis dari Kampung Cikeli mengawali pekerjaan sejak pukul 03.00 WIB. Berkelompok dua-dua, mereka berjalan ke “wilayah kerjanya” yakni pusat keramaian seperti, perempatan jalan kota, terminal, pelabuhan, dan sejumlah lokasi wisata.
“Puluhan warga Cikeli yang menjadi pengemis sudah menjadi rahasia umum. Saya selalu melihat mereka berangkat dan pulang karena melewati rumah saya,” katanya.
Pengemis dari Kampung Cikeli tidak dikoordinir oleh salah satu pihak yang biasa terjadi di kota-kota besar. Hanya saja, di antara pengemis sudah ada semacam pembagian “wilayah kerja” sehingga antarpengemis mengetahui daerah operasi masing-masing. “Kita sudah memiliki kawasan sendiri-sendiri,” ujar pengemis wanita yang mengaku “libur” karena sakit yang dideritanya baru sembuh.

Selama hampir 15 jam mengemis di tengah cuaca panas maupun hujan, mereka dapat mengantongi hasil belas kasihan orang antara Rp 50.000 sampai Rp 100.000 per hari. ”Untuk ukuran kampung, uang sebesar itu besar. Tak heran jika ada sebagian pengemis mampu membeli sawah dari hasil mengemis,” ujar salah seorang warga lain yang enggan namanya dikorankan.
Warga yang menjadi pengemis juga bisa ditemui di Kampung Kebanyakan, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Serang. Mereka umumnya adalah kaum ibu yang mulai beroperasi pukul 07.00 WIB.

Biasanya untuk menghindari bertemu dengan warga lain, saat berangkat, mereka tidak melalui jalan umum tapi melalui jalan setapak persawahan di belakang kampung. Mereka ‘bekerja’ hingga sore. Bila waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB, mereka pulang dengan menggunakan jasa ojek.

Saat menjalankan operasinya, mereka menggunakan pakaian yang compang-camping dengan selembar kain agar terlihat menyedihkan. Kain selendang itulah yang digunakan sebagai alas uang recehan yang diterima dari dermawan. Berbeda dengan pengemis asal Kampung Cikeli, sasaran pengemis asal Kampung Kebanyakan adalah perumahan yang ada di kota Serang.
Rata-rata usia mereka berkisar antara 50-60 tahun dan masih memiliki suami. Suami mereka umumnya bermata pencaharian sebagai tukang becak dan tukang panggul di Pasar Rau.

Pantauan Radar Banten, sungguh mengejutkan. Ternyata kondisi rumah mereka berkeramik dan bercat mencolok, membuat mata yang melihat tidak yakin kalau beberapa pemiliknya berprofesi sebagai pengemis. Apalagi, para pengemis tidak mau mengakui pekerjaan rutinnya dengan jujur.
Suratmi, warga Desa Bendung, Kecamatan Kasemen, yang letaknya bersebelahan dengan Desa Sukamanah menuturkan, mengenali sejumlah warga yang menjadi pengemis. Namun, saat berpapasan di jalan atau di daerah operasinya, mereka sering menghindar karena malu. “Saat saya menyapa mereka di jalan, mereka justru menghindar seperti tidak mengenal. Padahal, mereka mengenal saya. Mungkin karena tidak ingin diketahui,” kata Suratmi.

Marsin, warga Desa Sukamanah menceritakan, pada Idul Fitri tahun 2005 lalu, warga yang berprofesi sebagai pengemis berencana menyembelih hewan kurban berupa seekor kerbau. Namun dibatalkan karena tidak disetujui oleh ulama setempat. “Kalau yang saya dengar, jika hewan kurban berasal dari hasil meminta-minta berarti orang tersebut dianggap tidak mampu untuk berkurban,” kata Marsin. (*)