
Hampir setiap petang sepulang kerja, istri selalu menawarkan teh manis kepada saya. “Minum teh hangat ya bi,” kata istri. Aktivitas selama setengah hari, menahan sengatan matahari, bertempur dengan deru knalpot dan berlari mengejar nara sumber. Itulah aktivitas rutin saya sejak bekerja sebagai jurnalis di sebuah harian local, yang satu group dengan Jawa Pos, pimpinan Dahlan Iskan.
Secangkir teh itu, rasanya nikmat dan mampu mengilangkan kelelahan, kepenatan dan sedikit stres. Suasana terasa hidup dengan ceriwisnya Fadia, anak saya yang baru usia 8 bulan. “Ha,ha,…” teriak Fadia setiap kali diajak bermain. Secangkir teh hangat memang menjadi teman setia saya setiap pulang kerja. Meski terkadang tidak habis sehingga membuat istri “nyanyi-nyanyi” kepada saya.
Usai menghabiskan teh hangat suguhan dari istri, pikiran saya mendadak “terusik” dengan peristiwa peperangan di Jalur Gaza, Palestina. Pikiran ini semakin terusik, menerawang jauh ke negeri yang menjadi kiblat pertama umat Islam dan tempat lahirnya para nabi.
Yah, pikiran dan hati ini makin terusik ketika membaca berita di koran kompas, edisi Kamis (15/1). “Dua Gelas teh hangat Sadeli di Rafah,” demikian judul berita tersebut. Judul ini pula yang memberikan insipirasi untuk menuliskan kebiasaan saya minum teh setiap pulang kerja. Terbayangkan dalam ilustrasi otak saya, bagaimana pedih dan sakitnya rakyat Palestina.
Hidup di tengah dentuman bom dan mortar Israel, derap kaki serdadu zionis Isreal pun menambah perihnya kehidupan sekitar 1,5 juta jiwa rakyat Palestina. Resolusi PBB agar ada gencatan senjata pun diabaikan. Kalau saya bayangkan mirip tragedi pembantaian yang pernah dilakukan oleh Adolf Hitler.
Dalam buku yang berjudul 100 tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah karangan Michael H Hart, diceritakan secara detail bagaimana kekejaman yang dilakukan oleh pria A Hitler Asutria ini. Selama berkuasa Hitler merupakan pembunuh yang tiada tandingnya. Bayangkan, dalam waktu beberapa tahun saja Hitler membunuh secara sadis 6 juta orang.
Pertanyaan saya, apakah Israel akan kembali mengulangi sadisme ini kepada rakyat Palestina?. Secangkir teh hangat yang saya minum setiap shalat maghrib bersama istri dan anak. Telah mengingatkan saya bahwa kekejaman Israel terhadap rakyat Palestina merupakan prilaku yang menyengsarakan.
Kepedihan jiwa yang dirasakan oleh saya, istri dan Fadia, anak pertama saya jadi terusik oleh tingkah dan kekejaman Israel kepada rakyat Palestina. Anak-anak menjerit ketika harus dioperasi tanpa dibius, para istri terpaksa menjadi janda karena suaminya diberondong peluru dan rudal Israel, yang membabi buta.
Kepiluan kami dan seluruh umat Islam yang sadar akan hakekat persauadaraan Islam, yang pernah dicontohkan oleh Muhammad Saw, tak kan pernah berakhir sebelum rakyat Palestina dapat meneguk air teh hangat dan bercanda dengan kelucuan anak-anak mereka.
Menurut catatan dari sejumlah media, sepanjang dua pekan penyerangan, 900 rakyat Palestina tewas yang setengahnya adalah anak-anak dan wanita, gedung-gedung roboh. Kekejian Israel pun semakin tampak ketika bantuan kemanusiaan dilarang masuk ke jalur Gaza.
Secangkir teh hangat yang manis, semoga sajian nikmat ini bisa direguk kembali oleh rakyat Palestina, tanpa dilingkari oleh gumpalan asap rudal, pekikan suara peluru dan mortir. Do’a kami selalu menyertai kalian, rakyat Palestina. ###
Secangkir teh itu, rasanya nikmat dan mampu mengilangkan kelelahan, kepenatan dan sedikit stres. Suasana terasa hidup dengan ceriwisnya Fadia, anak saya yang baru usia 8 bulan. “Ha,ha,…” teriak Fadia setiap kali diajak bermain. Secangkir teh hangat memang menjadi teman setia saya setiap pulang kerja. Meski terkadang tidak habis sehingga membuat istri “nyanyi-nyanyi” kepada saya.
Usai menghabiskan teh hangat suguhan dari istri, pikiran saya mendadak “terusik” dengan peristiwa peperangan di Jalur Gaza, Palestina. Pikiran ini semakin terusik, menerawang jauh ke negeri yang menjadi kiblat pertama umat Islam dan tempat lahirnya para nabi.
Yah, pikiran dan hati ini makin terusik ketika membaca berita di koran kompas, edisi Kamis (15/1). “Dua Gelas teh hangat Sadeli di Rafah,” demikian judul berita tersebut. Judul ini pula yang memberikan insipirasi untuk menuliskan kebiasaan saya minum teh setiap pulang kerja. Terbayangkan dalam ilustrasi otak saya, bagaimana pedih dan sakitnya rakyat Palestina.
Hidup di tengah dentuman bom dan mortar Israel, derap kaki serdadu zionis Isreal pun menambah perihnya kehidupan sekitar 1,5 juta jiwa rakyat Palestina. Resolusi PBB agar ada gencatan senjata pun diabaikan. Kalau saya bayangkan mirip tragedi pembantaian yang pernah dilakukan oleh Adolf Hitler.
Dalam buku yang berjudul 100 tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah karangan Michael H Hart, diceritakan secara detail bagaimana kekejaman yang dilakukan oleh pria A Hitler Asutria ini. Selama berkuasa Hitler merupakan pembunuh yang tiada tandingnya. Bayangkan, dalam waktu beberapa tahun saja Hitler membunuh secara sadis 6 juta orang.
Pertanyaan saya, apakah Israel akan kembali mengulangi sadisme ini kepada rakyat Palestina?. Secangkir teh hangat yang saya minum setiap shalat maghrib bersama istri dan anak. Telah mengingatkan saya bahwa kekejaman Israel terhadap rakyat Palestina merupakan prilaku yang menyengsarakan.
Kepedihan jiwa yang dirasakan oleh saya, istri dan Fadia, anak pertama saya jadi terusik oleh tingkah dan kekejaman Israel kepada rakyat Palestina. Anak-anak menjerit ketika harus dioperasi tanpa dibius, para istri terpaksa menjadi janda karena suaminya diberondong peluru dan rudal Israel, yang membabi buta.
Kepiluan kami dan seluruh umat Islam yang sadar akan hakekat persauadaraan Islam, yang pernah dicontohkan oleh Muhammad Saw, tak kan pernah berakhir sebelum rakyat Palestina dapat meneguk air teh hangat dan bercanda dengan kelucuan anak-anak mereka.
Menurut catatan dari sejumlah media, sepanjang dua pekan penyerangan, 900 rakyat Palestina tewas yang setengahnya adalah anak-anak dan wanita, gedung-gedung roboh. Kekejian Israel pun semakin tampak ketika bantuan kemanusiaan dilarang masuk ke jalur Gaza.
Secangkir teh hangat yang manis, semoga sajian nikmat ini bisa direguk kembali oleh rakyat Palestina, tanpa dilingkari oleh gumpalan asap rudal, pekikan suara peluru dan mortir. Do’a kami selalu menyertai kalian, rakyat Palestina. ###
Tidak ada komentar:
Posting Komentar