Sabtu, 17 Januari 2009

Secangkir Teh Ingatkan Palestina


Hampir setiap petang sepulang kerja, istri selalu menawarkan teh manis kepada saya. “Minum teh hangat ya bi,” kata istri. Aktivitas selama setengah hari, menahan sengatan matahari, bertempur dengan deru knalpot dan berlari mengejar nara sumber. Itulah aktivitas rutin saya sejak bekerja sebagai jurnalis di sebuah harian local, yang satu group dengan Jawa Pos, pimpinan Dahlan Iskan.

Secangkir teh itu, rasanya nikmat dan mampu mengilangkan kelelahan, kepenatan dan sedikit stres. Suasana terasa hidup dengan ceriwisnya Fadia, anak saya yang baru usia 8 bulan. “Ha,ha,…” teriak Fadia setiap kali diajak bermain. Secangkir teh hangat memang menjadi teman setia saya setiap pulang kerja. Meski terkadang tidak habis sehingga membuat istri “nyanyi-nyanyi” kepada saya.

Usai menghabiskan teh hangat suguhan dari istri, pikiran saya mendadak “terusik” dengan peristiwa peperangan di Jalur Gaza, Palestina. Pikiran ini semakin terusik, menerawang jauh ke negeri yang menjadi kiblat pertama umat Islam dan tempat lahirnya para nabi.
Yah, pikiran dan hati ini makin terusik ketika membaca berita di koran kompas, edisi Kamis (15/1). “Dua Gelas teh hangat Sadeli di Rafah,” demikian judul berita tersebut. Judul ini pula yang memberikan insipirasi untuk menuliskan kebiasaan saya minum teh setiap pulang kerja. Terbayangkan dalam ilustrasi otak saya, bagaimana pedih dan sakitnya rakyat Palestina.
Hidup di tengah dentuman bom dan mortar Israel, derap kaki serdadu zionis Isreal pun menambah perihnya kehidupan sekitar 1,5 juta jiwa rakyat Palestina. Resolusi PBB agar ada gencatan senjata pun diabaikan. Kalau saya bayangkan mirip tragedi pembantaian yang pernah dilakukan oleh Adolf Hitler.

Dalam buku yang berjudul 100 tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah karangan Michael H Hart, diceritakan secara detail bagaimana kekejaman yang dilakukan oleh pria A Hitler Asutria ini. Selama berkuasa Hitler merupakan pembunuh yang tiada tandingnya. Bayangkan, dalam waktu beberapa tahun saja Hitler membunuh secara sadis 6 juta orang.
Pertanyaan saya, apakah Israel akan kembali mengulangi sadisme ini kepada rakyat Palestina?. Secangkir teh hangat yang saya minum setiap shalat maghrib bersama istri dan anak. Telah mengingatkan saya bahwa kekejaman Israel terhadap rakyat Palestina merupakan prilaku yang menyengsarakan.

Kepedihan jiwa yang dirasakan oleh saya, istri dan Fadia, anak pertama saya jadi terusik oleh tingkah dan kekejaman Israel kepada rakyat Palestina. Anak-anak menjerit ketika harus dioperasi tanpa dibius, para istri terpaksa menjadi janda karena suaminya diberondong peluru dan rudal Israel, yang membabi buta.

Kepiluan kami dan seluruh umat Islam yang sadar akan hakekat persauadaraan Islam, yang pernah dicontohkan oleh Muhammad Saw, tak kan pernah berakhir sebelum rakyat Palestina dapat meneguk air teh hangat dan bercanda dengan kelucuan anak-anak mereka.

Menurut catatan dari sejumlah media, sepanjang dua pekan penyerangan, 900 rakyat Palestina tewas yang setengahnya adalah anak-anak dan wanita, gedung-gedung roboh. Kekejian Israel pun semakin tampak ketika bantuan kemanusiaan dilarang masuk ke jalur Gaza.
Secangkir teh hangat yang manis, semoga sajian nikmat ini bisa direguk kembali oleh rakyat Palestina, tanpa dilingkari oleh gumpalan asap rudal, pekikan suara peluru dan mortir. Do’a kami selalu menyertai kalian, rakyat Palestina. ###

Kekuatan Cinta


Tidak bisa didefinisikan, menggetarkan jiwa dan hati kita, bergemuruh di dalam diri kita, itulah kata cinta. Wajar jika Ibnu Qoyim Al-Jauziah dalam bukunya yang berjudul taman-taman orang jatuh cinta, mengatakan, semestinya kecintaan seorang muslim kepada Allah SWT, jauh lebih besar daripada rasa takut karena saking dahsyatnya kekuatan cinta.

Lalu kita bertanya kenapa rasa cinta harus lebih besar daripada rasa takut kita kepada Allah SWT, Al-Jauziah menerangkan, kalau rasa takut lebih dominan menyelinap dalam bayang-bayang diri kita, maka yang muncul adalah ingin menjauh, menipisnya semangat pengorbanan dan tak ada ketulusan menjalankan ibadah. Namun, yang ada justru perintah ibadah menjadi beban dan terasa berat.

Namun, jika rasa cinta kita kepada Allah SWT lebih besar maka akan melahirkan kesetiaan, pengorbanan, ketulusan pun akan muncul dalam diri kita. Ibadah kita, pekerjaan kita, sodakoh kita, akan terasa ringan karena memang kita untuk yang kita cintai. Shalat dan dzikirpun tidak menjadi beban melainkan kebutuhan.

Kekuatan cinta seperti ini pula yang pernah dibuktikan oleh Masyitoh dan keluarganya. Dengan senyum mereka menjemput nyawa akibat kekejian Fir’aun. Masyitoh dimasukan ke dalam kuali yang berisi air panas. Rasa sakit, pedih dan pilu terkalahkan oleh rasa cintanya kepada Allah SWT.

Begitulah kekuatan cinta yang sungguh luar biasa. Tak heran, jika setiap orang ingin dicintai dan mencintai meskipun harus mengorbankan nyawa sekalipun. Atas kekuatan cinta pula, William Shakespeare, seorang penyair asal Inggris menuliskan kisah Romeo and Juliet.

Masih banyak kekuatan-kekuatan cinta yang mampu membangkitkan jiwa, sehingga jiwa tadinya tertidur dan lemah, menjadi kuat seperti pagar tembok yang tak runtuh diterjang badai. Gambaran ini yang dilakukan Mohandas Gandhi, seorang tokoh besar India yang mencintai rakyat dan tanah airnya. Dengan jargonnya tanpa kekerasan, Ghandi mampu mengusir penjajah Inggris tanpa kekerasan.

Kekuatan cinta pula yang menggerakan rakyat Palestina habis-habisan mempertahankan tanah air mereka dari penjajah Israel. Meski para pejuang Palestina paham betul bahwa persenjataan mereka sangat terbatas jika dibandingkan dengan Israel.

Namun karena kekuatan cinta, pejuang Palestina tak gentar menghadapi semua gempuran Israel. Kematian bagi mereka adalah pintu untuk bertemu, bersua dan berkasih dengan Allah SWT. Begitulah kekuatan cinta, apapun akan dilakukan demi sesuatu yang dicintainya. ****