Minggu, 10 Mei 2009

Barack Obama dan Penjara Guantanamo

Presiden Amerika Serikat Barack Obama memang sosok yang mengejutkan sekaligus sosok yang mengaggumkan. Maklum, dia adalah presiden pertama berkulit hitam yang mendapat kemenangan luar biasa. Lalu apa yang telah dan akan dilakukan di masa 100 hari menjadi presiden?.

Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia

Pada pidato 100 hari masa pemerintahaan Presiden Amerika Barack Obama di Washington DC pada Kamis 30 April 2009, Obama menyampaikan beberapa capaian yang telah dan akan dilakukan diantaranya pemberian stimulus fiscal untuk mengatasi krisis keuangan di Amerika, menarik pasukan Amerika dari Irak dan memperbaiki citra penjara Guantanamo (penjara khusus teroris) dari mata dunia dan warga Amerika yang pro HAM.
Maklum, penjara Guantanamo yang digagas oleh dinasti Bush saat berkuasa selama beberapa dekade ini telah mendapat stigma negative dari mata dunia khususnya umat Islam.Metode interogasi dan perlakuan yang digunakan petugas di penjara ini telah mengabaikan etika kemanusiaan.
Penjara Guantanamo sendiri merupakan penjara yang super ketat dengan pengamanan maksimum yang menampung hampir 700 orang-orang yang selama ini dianggap oleh dinasti Bush sebagai teroris. Guantanamo terletak di pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Teluk Guantanamo di Kuba.
Dalam bukunya yang berjudul For Good and Country “korban paranoid Amerika”, James Yee menceritakan pengalaman pahitnya selama bertugas di Guantanamo sebagai ulama militer di Guantanamo.
James Yee sendiri adalah seorang anggota militer dengan pangkat kapten di US Army. Di buku setebal 364 halaman ini, James menceritakan pengalaman buruk yang pernah dialami selama berada di Guantanamo. Ia dituduh sebagai mata-mata teroris sampai akhirnya James di tahan di bawa ke sebuah tempat dan diinterogasi oleh petugas tanpa peduli jabatannya sebagai kapten lulusan dari West Point, sebuah akademi militer paling bergengsi di Amerika Serikat.
James juga menceritakan perlakuan petugas di Guantanamo terhadap kitab suci Al-Qur’an. Polisi militer di Guantanamo, menurut James, sering menggunakan lembaran-lembaran Al-Qur’an untuk membersihkan lantai. Tak heran, di tempat ini banyak ditemukan lembaran Al-Quran seperti kertas sampah.
Membaca kisah James yang diekspresikan dalam bukunya itu, membuat kita jadi penasaran tentang rencana Obama untuk menghilangkan kebiasaan buruk di Guantanamo. Apakah rencana ini akan dapat direalisasikan atau hanya sekadar trik memberikan kepercayaan terhadap dunia. Maklum, masa pemerintahan Obama sedang terjadi krisis keuangan yang membuat negara adidaya ini kewalahan menghadapi perekonomiannya sendiri.
Kita berharap Obama betul-betul serius membersihkan sentiment negatif dari dunia khususnya umat muslim yang selama ini sering disakiti, baik dari sisi psikologi maupun fisik. (Ditulis pada Sabtu,2 Mei 2009 pukul 02.15 dini hari)