
Golden Age atau usia emas menurut para ahli adalah masa yang paling menentukan perkembangan potensi anak. Pada usia 0-3 tahun ini diyakini masa yang paling baik untuk mengajak anak mengeksplorasi dan unjuk potensi.
Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia
Bermain dan becanda dengan anak merupakan kegiatan saya setelah selesai melakukan tugas pencarian dan penulisan berita. Aktivitas seperti ini biasanya saya lakukan pagi dan sore hari. Sebagai seorang lelaki yang baru pertama kali dikaruniai anak oleh Allah SWT, kegiatan ini sangat mengasyikan karena dapat melenturkan otot ketegangan dan kelusuhan selama seharian bekerja.
Apalagi, kini Fadia sudah bisa mengenal siapa orang disekelilingnya meskipun bahasanya masih gelepotan ketika meminta sesuatu kepada saya dan istri. Sebagai keluarga muda yang belum berpengalaman dalam menentukan metode pendidikan anak, kami berdua hanya bisa mengasah dengan cara rajin membaca buku, majalah, koran, dan artikel tentang anak di internet.
Tak jarang, kami bertiga menyempatkan rekreasi di toko buku sebulan sekali. Sayang, di tempat tinggal kami belum ada toko buku yang lengkap sehingga agak kesulitan melengkapi beberapa judul buku.
November 2008, Fadia memasuki usai 7 bulan dan ia sudah mulai suka bermain dengan benda-benda yang disukai. Diantara benda yang paling menarik perhatiannya adalah bola plastik, koran dan buku. Bola plastik yang warna-warni memang menggoda Fadia, terutama saat anak kelahiran 20 April 2008 ini selesai dimandikan.
Handuk kuning bergambar kartun yang dililitkan pada badan Fadia, tidak menghalangi untuk tetap bermain dengan bola plastik yang saya beli secara tidak sengaja, di area komplek Masjid Agung At-Tsaurah, Kota Serang, Provinsi Banten, usai menghadiri kuliah dhuha.
Bola seharga Rp 2.000 itu sering membuat Fadia jengkel karena saat dipegang selalu lepas. Maklum, tangannya terlalu kecil untuk memegang erat bola itu. Jika sudah seperti ini, biasanya gadis cilik yang mendapat julukan nyi lebrak oleh neneknya ini, akan beteriak-teriak kepada kami untuk minta dibantu.
Jika hal ini terjadi, saya dan istri sepakat untuk tidak memberikan bantuan secara cuma-cuma. Kesepakatan ini untuk melatih anak yang memiliki nama lengkap Hazimah Ayu Fadia ini, terbiasa dengan usaha dan kerja keras jika menginginkan impiannya tercapai. Sebagai salahsatu proses pembelajaran, kami berdua hanya akan mengangkat badan Fadia supaya berdiri untuk selanjutnya gadis cilik ini, dibiarkan loncat-loncat dengan irama teriakan yang memekan telinga.
Stimulus atau rangsangan seperti ini ternyata cukup berhasil meskipun belum sempurna. Hal ini terlihat ketika bola plastik lepas, Fadia langsung memutar badannya dan digerakan maju ke arah bola yang ada di depan wajahnya. Namun, badan yang gemuk membuat Fadia agak berat melakukan hal ini sehingga ujung-ujungnya ia tetap menangis.
Setelah beberapa kali diamati pada permainan bola ini, Fadia mulai pintar menggunakan akalnya agar pegangan bolanya tidak lepas. Kini, yang dipegang oleh gadis lucu ini bukan langsung bolanya melainkan tali berwarna putih yang mengikat di bola tersebut. “Bi, Fadia sekarang pintar loh. Jadi, biar tidak lepas yang dia pegang talinya,” kata istri saya dengan bangga karena rangsangan logikanya sedikit demi sedikit sudah mulai diterima oleh Fadia. ***
Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia
Bermain dan becanda dengan anak merupakan kegiatan saya setelah selesai melakukan tugas pencarian dan penulisan berita. Aktivitas seperti ini biasanya saya lakukan pagi dan sore hari. Sebagai seorang lelaki yang baru pertama kali dikaruniai anak oleh Allah SWT, kegiatan ini sangat mengasyikan karena dapat melenturkan otot ketegangan dan kelusuhan selama seharian bekerja.
Apalagi, kini Fadia sudah bisa mengenal siapa orang disekelilingnya meskipun bahasanya masih gelepotan ketika meminta sesuatu kepada saya dan istri. Sebagai keluarga muda yang belum berpengalaman dalam menentukan metode pendidikan anak, kami berdua hanya bisa mengasah dengan cara rajin membaca buku, majalah, koran, dan artikel tentang anak di internet.
Tak jarang, kami bertiga menyempatkan rekreasi di toko buku sebulan sekali. Sayang, di tempat tinggal kami belum ada toko buku yang lengkap sehingga agak kesulitan melengkapi beberapa judul buku.
November 2008, Fadia memasuki usai 7 bulan dan ia sudah mulai suka bermain dengan benda-benda yang disukai. Diantara benda yang paling menarik perhatiannya adalah bola plastik, koran dan buku. Bola plastik yang warna-warni memang menggoda Fadia, terutama saat anak kelahiran 20 April 2008 ini selesai dimandikan.
Handuk kuning bergambar kartun yang dililitkan pada badan Fadia, tidak menghalangi untuk tetap bermain dengan bola plastik yang saya beli secara tidak sengaja, di area komplek Masjid Agung At-Tsaurah, Kota Serang, Provinsi Banten, usai menghadiri kuliah dhuha.
Bola seharga Rp 2.000 itu sering membuat Fadia jengkel karena saat dipegang selalu lepas. Maklum, tangannya terlalu kecil untuk memegang erat bola itu. Jika sudah seperti ini, biasanya gadis cilik yang mendapat julukan nyi lebrak oleh neneknya ini, akan beteriak-teriak kepada kami untuk minta dibantu.
Jika hal ini terjadi, saya dan istri sepakat untuk tidak memberikan bantuan secara cuma-cuma. Kesepakatan ini untuk melatih anak yang memiliki nama lengkap Hazimah Ayu Fadia ini, terbiasa dengan usaha dan kerja keras jika menginginkan impiannya tercapai. Sebagai salahsatu proses pembelajaran, kami berdua hanya akan mengangkat badan Fadia supaya berdiri untuk selanjutnya gadis cilik ini, dibiarkan loncat-loncat dengan irama teriakan yang memekan telinga.
Stimulus atau rangsangan seperti ini ternyata cukup berhasil meskipun belum sempurna. Hal ini terlihat ketika bola plastik lepas, Fadia langsung memutar badannya dan digerakan maju ke arah bola yang ada di depan wajahnya. Namun, badan yang gemuk membuat Fadia agak berat melakukan hal ini sehingga ujung-ujungnya ia tetap menangis.
Setelah beberapa kali diamati pada permainan bola ini, Fadia mulai pintar menggunakan akalnya agar pegangan bolanya tidak lepas. Kini, yang dipegang oleh gadis lucu ini bukan langsung bolanya melainkan tali berwarna putih yang mengikat di bola tersebut. “Bi, Fadia sekarang pintar loh. Jadi, biar tidak lepas yang dia pegang talinya,” kata istri saya dengan bangga karena rangsangan logikanya sedikit demi sedikit sudah mulai diterima oleh Fadia. ***